LGBT nampaknya semakin menjadi sorotan di Indonesia. sekarang ini makin banyak yang mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai kaum LGBT. Tentunya ini bukan tanpa pertentangan di sana sini. Salah satu yang menentang LBGT karena dianggap berpengaruh pada kesehatan adalah daerah Sumatra Barat. Wagub Sumbar, Nasrul Abit, menyatakan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan upaya untuk ‘memberantas’ apa yang disebutnya sebagai “seks menyimpang” pada kalangan gay untuk mencegah HIV/AIDS. Akan tetapi, menurut aktivis, langkah tersebut dilandaskan pada “kebencian” dan bakal berujung kepada diskriminasi.

Risiko Penularan Penyakit

Data jumlah LBGT yang mana tercatat di provinsi ini, ada ribuan. Akan tetapi angka tersebut belum valid, ungkap Nasrul. Ia berpendapat bahwa apabila kaum LBGT (Lesbian, Biseksual, Gay dan Transgender) ini makin bertambah, maka akan meningkat pula kasus HIV di Indonesia.

“Tiap malam contohnya, di Padang, berkeliaran kurang lebih 100 orang. Dan satu orang melayani 3 orang. Jadi 300 yang mereka layani. 150 orang di antaranya memiliki istri maka dari itu ini sudah menularkan penyakit. Mereka tidak sakit sekarang, tapi ya baru 10 tahun ke depan. Ini karena perbuatan mereka sendiri,” ungkap Nasrul dilansir dari BBC Indonesia.

Saat ditanya soal usaha untuk memberantas mereka, Nasrul mengatakan, “Untuk sekarang ini belum bisa memberantas semuanya karena kami belum ada data yang valid, baru disosialisasikan. Mereka yang mana kena penyakit kita obati, yang belum kena maka jangan sampai kena. Kita sosialisasi ya lewat keluarga, kalau data menunjukkan Sumbar banyak sekali yang kaum LGBT.”

Dalam kurun waktu 1 bulan terakhir, kicauan di media sosial dan juga berita menunjukkan jumlah gay yang ada di Sumatra Barat. Dan berita-berita Gadis poker itu diangkat jelas oleh sosial media dan berita-berita tersebut. namun Nasrul masih belum bisa mengatakannya dengan pasti karena belum ada data yang valid.

Akan tetapi, Nasrul mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama juga dengan rumah sakit dan juga komunitas untuk mengurangi jumlah gay untuk bisa mengurangi risiko HIV/AIDS.

Haryoto, selaku aktifis LGBT, menyebutkan upaya pemerintah provinsi Sumbar ini sebagai langkah yang nanti ujungnya pada diskriminasi. “Dugaan saya, langkah ini bukan lah memberantas HIV, karena kalau sekarang dijalankan sudah ketinggalan sekali,” ungkap Haryoto mengacu kepada dilibatkannya komunitas LGBT dalam program dari pemerintah mengurangi penyakit HIV/AIDS. “Basisnya adalah kebencian pada kelompok ini…kebencian akan melahirkan diskriminasi,” imbuhnya.

Angka HIV Paling Tinggi di Jakarta

Krittayawan Boonto, Direktur Badan Aids PBB, UNAIDS, untuk Indonesia, mengatakan bahwa angka orang yang mana terkena HIV di Indonesia mencapai sebanyak 620.000 dengan angka yang paling tinggi di Jakarta yaitu 45.000 penderita dan setelah itu diikuti oleh Jayapura, Sorong, Bandung, Surabaya, kemudian Denpasar.

Angka penularan kasus HIV,menurutnya, mencapai jumlah 48.000 per tahunnya. Jumlah ini sudah turun apabila dibandingkan dengan tahun 2010 lalu yakni sebesar 60.000. akan tetapi angka ini masih saja tinggi karena akan meningkatkan jumlah kasus mendekati angka 1 juta dalam beberapa tahun mendatang apabila tak ditekan lagi.

Dari angka penularan yang baru ini, imbuhnya lagi, 30% di antaranya adalah pria-pria gay sedangkan 30% lainnya adalah para istri yang menggunakan narkoba dengan suntikan, istri pria-pria gay, dan para pengguna jasa PSK (pekerja seks komersial). Selebihnya dari jumlah itu adalah mereka yang menggunakan narkoba menggunakan jarum suntik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *