Rupiah Masih Tertekan Virus Corona dengan Rp. 14.283 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah pasalnya masih melemah, menjadi Rp. 14.283 per dolar AS atau sebesar 0.28% pada perdagangan pasar spot, pada hari Senin (9/3) pagi. Sebelumnya, mata uang Indonesia berada pada nilai Rp. 14.243 per dolar AS pada Jumat (6/3) di penutupan pasar.

Nilai Tukar Rupiah Masih Melemah: Dampak Corona

Senin pagi, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Menurut pantauan, yen Jepang misalnya, menguat 1,10%, dolar Singapura menguat menjadi 0,12%, baht Thailand 0.11%, dan dolar Hong Kong juga menguat tipis 0.01%. di sisi lainnya, pelemahan malah terjadi pada ringgit Malaysia sebanyak 0.65%, lira Turki dengan 0,03% dan won Korea dengan 0.42% terhadap dolar AS.

Di negara-negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak bervariasi pada dolar AS. Misalnya saja Dolar Australia dan Dolar Kanada yang masih melemah dengan nilai masing-masing 0,36% dan 1,38%. Sementara itu, poundsterling Inggris dan Euro malah menguat dengan nilai masing-masingnya sebesar 0.18% dan 0.70% terhadap dolar AS.

Menanggapi hal ini, analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menyatakan bahwa pelemahan rupiah ini lebih disebabkan karena kekhawatiran pasar sebab wabah virus corona Covid-19. “Rupiah terkoreksi terhadap dolar AS, mengingat penyebaran covid-19 yang secara massif jadi kekhawatiran bagi para pelaku pasar global,” ungkap Nafan dilansir dari CNN Indonesia hari Senin (9/3).

Tak Cuma itu, Nafan juga menyebutkan bahwa data non farm payroll (NFP) AS juga sudah menunjukkan hasil positif, sehingga bisa menguatkan nilai dolar pada rupiah. Memang diketahui, data NFP menunjukkan perubahan jumlah tenaga kerja AS pada semua sector, kecuali pegawai pemerintah, pegawai yang bekerja pada organisasi LSM (non-profit/nirlaba), pegawai rumah tangga, dan karyawan sector pertanian.

“Data pengangguran AS pun menunjukkan hasil yang positif dengan penurunan presentase dari yang positif dengan penurunan presentase togel singapura dari 3,6% menjadi 3,5%,” ungkapnya lagi.

Dengan demikian, maka Nafan berpendapat bahwa rupiah bergerak pada kisaran Rp. 14.170 sampai dengan Rp. 14.300 per dolar AS hari Senin (9/3) ini. “Paad perspektif teknikal, pola three inside up candlestick sudah terbentuk mengindikasikan potensi depresiasi rupiah terhadap dolar AS,” terangnya menambahkan.

Rupiah Masih Merana Karena Virus Corona

Memang pada hari Jumat (6/3) kemarin dilaporkan bahwa nilai tukar rupiah masih melemah ke nilai Rp. 14.212 per dolar AS atau bisa dikatakan 0.26% di perdagangan pasar spot. Sebelumnya memang mata uang Indonesia sudah di posisi Rp. 14.175 per dolar AS di perdagangan pasar pada hari Kamis (5/3).

Saat itu Nafan juga menilai pelemahan rupiah ini karena virus corona dan adanya ekspektasi pesimis dari pasar atas data pekerjaan di AS. “Rupiah diprediksi terkoreksi pada dolar AS, mengingat para pelaku pasar global akan menantikan data non-farm payroll AS, dan penyebaran COVID-19 yang mana secara massif akan menjadikan kekhawatiran bagi para pelaku pasar tersebut,” ungkapnya Jumat (6/3) lalu.

Sementara itu, ia melihat data makroekonomi domestic masih belum ada yang memberikan high market impact yang positif untuk rupiah. Dengan demikian, Nafan menilai bahwa rupiah akan bergerak di kisaran Rp. 14.115 sampai dengan Rp. 14.285 hari tersebut. “Secara teknikal, terlihat pola bullish harami candlestick pattern yang mana mengindikasi ada potensi pelemahan rupiah pada dolar AS,” pungkas Nafan. Dan benar saja, sampai hari ini rupiah masih merana karena corona.