Semburan Lumpur dan Gas Ponpes AL-Ihsan Berhenti

Kabar baik bagi warga sekitar Pondok Pesantren Al-Ihsan, pasalnya semburan lumpur dan gas yang terjadi beberapa hari terakhir telah berhenti. Penyebab berhentinya semburan ini tidak dibantu proses oleh manusia melainkan terjadi secara alami setelah selama kurang lebih 10 hari terus mengeluarkan lumpur sekaligus gas. Dalam waktu dekat, penutupan sumur pun akan segera dilakukan oleh dinas terkait.

Awal Mula Kemunculan Semburan

Di sebuah pondok pesantren di Pekanbaru, santri dan pengelolanya dikejutkan dengan adanya semburan gas bercampur lumpur yang terjadi di dekat gedung mereka. Kemunculan lumpur gas tersebut berawal di tanggal 4 Februari saat ada pekerja menggali sumur. Adapun tinggi lumpur dan gas bisa mencapai 15 meter. Karena itu terjadi maka warga ponpes pun langsung panik dan segera menjauh dari lokasi semburan. Memori tentang lumpur lapindo pun terkenang dan dikhawatirkan akan terjadi hal yang sama di Ponpes Al-Ihsan.

Penggali sudah mencapai kedalaman 119 meter. Awalnya yang keluar hanya gas dari perut bumi, namun sehari kemudian ada lumpur bercampur dengan gas. Beberapa saat kemudian batu dan pasir pun terhempas hingga 200 meter jauhnya dari lokasi semburan. Batu tersebut terlempar ke arah bangunan sehingga menyebabkan banyak bangunan sekitar lokasi sumur mengalami kerusakan. Untuk sementara santri direlokasi ke tempat yang lebih aman dan penggalian pun prosesnya dihentikan karena sudah berbahaya.

EMP Bentu Dilibatkan

Karena semburan lumpur gas di ponpes Al-Ihsan menjadi viral, maka Perusahaan Gas EMP Bentu pun turut serta melakukan penyelidikan. Dikhawatirkan semburan gas akan menyebabkan kebakaran dan bisa memberikan bahaya. Setelah dilakukan analisa, gas yang dikeluarkan oleh sumur merupakan gas yang mudah terbakar dan mengandung hydrogen sulfide (H2S). gas ini tergolong gas yang beracun sehingga berbahaya untuk makhluk hidup. Beruntungnya, setelah 10 hari semburan lumpur dan gas pun berhenti.

Komplek pondok pesantren Al-Ihsan merasa lega lantara sumur yang digali berhenti mengeluarkan gas dan lumpur. Kini yang tersisia hanya titik semburan yang melebar. Pegawan EMP Bentu mengatakan bahwa diameter lubang bisa mencapai enam meter. Untuk bisa memberikan keyakinan dan kepastikan, pemantauan pun dilakukan. Secara rutin dilakukan pengukuran kadar gas dengan menggunakan alat khusus. Petugas EMP Bentu mengatakan, ada pemeriksaan kadar gas dengan alat yang sudah disiapkan setiap satu jam sekali.

Indra Agus Lukman sebagai Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Riau memberikan pernyataan bahwa lubang akan ditutup. Adapun teknisnya menggunakan alat berat yang mengalirkan air ke dalam lubang. Tujuannya untuk mengeluarkan lumpur yang mungkin masih tersisa di dalam. Jika keadaan di dalam tekanannya situs judi slot terbaik dan terpercaya no 1 sangat rendah maka digunakan semen untuk menutup lubang sumur tersebut. Akan tetapi jika masih ada tekanan, maka injeksi lumpur panas dapat dilakukan menggunakan alat berat. Ini akan memakan waktu yang tidak sebentar tapi bisa dilakukan bertahap.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh warga Pondok Pesantren Al-Ihsan karena sudah tidak ada lagi material yang keluar dari sumur. Menurut Irdas Amanda Muswar, ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia sumber gas yang ada di dalam sumur tersebut adalah gas rawa yang banyak ditemukan di daerah Riau. Irdas berharap kedepannya ada pemetaan sumber gas rawa di beberapa daerah sehingga masyrakat yang akan menggali sumber air tanah tidak akan mengalami hal serupa dan menemukan semburan lumpur gas yang sama.